Pulau Jawa pada zaman
itu masih bergoyang-goyang, selalu bergerak mengguncang-guncang, karena belum
ada penindihnya. Oleh karena itu Bhatara Guru mencari alat untuk menguatkan
Pulau Jawa supaya tetap kuat. Kemudian Bhatara Guru bertapa di Gunung Hyang (Gunung
Dewa, Gunung Dieng sekarang), berdiri menghadap ke timur, kemudian diputarlah
air sampai menjadi busa, lalu menjadi gunung. Tanah yang dipijak oleh kaki
Bhatara kelak menjadi Gunung Limohan. Kemudian Pulau Jawa sudah tidak kuat
lagi, selalu bergerak berguncang-guncang. Kemudian Bhatara Parameswara (nama
lain Bhatara Guru) memerintahkan kepada para dewata menghentikan penciptaan
dunia. Maka pulanglah mereka ke sorganya masing-masing. Adapun manusia di Pulau
Jawa semakin lama semakin bertambah banyak. Melihat keadaan Pulau Jawa
para Dewa merasa sangat prihatin. Itu sebabnya, dengan berbondong-bondong para
dewa menghadap Bhatara Guru yang menjadi pemimpin mereka. Semua dewata, para
resi, para pahlawan, para bidadari, para gandarwa, semua berhimpun dan sujud di
kaki Bhatara Mahakarana. Setelah mereka berbuat sembah, mereka duduk bersila
berderet menghadap ke Bhatara Guru. ”Sampai sekarang Pulau Jawa masih terus
bergoyang kalau tidak segera diatasi, pulau itu selamanya tidak akan ditempati.
Karena itu, mohon Pukulun (Tuan) memikirkannya,” kata Dewa Wisnu. Sesuai dengan
hasil semadinya di Gunung Dihyang Bhatara Guru telah menemukan cara mengatasi
hal itu. “Satu-satunya cara untuk membuat Pulau Jawa kokoh dan tidak bergoyang
adalah dengan memberinya pasak. Karena itu pergilah ke Jambudwipa
(India). Potonglah Gunung Mandara separuhnya dan ambillah puncak Mahameru untuk
dijadikan pasak Pulau Jawa,” ujar Bhatara Guru. “Mohon ampun, Pukulun. Gunung
Mandara itu sangat tinggi, puncaknya yang bernama Mahameru sampai menyentuh
langit. Jadi, meskipun diambil separuhnya, tetap saja sangat besar dan terlalu
berat untuk diangkat serta dipindahkan. Mana mungkin di antara kami ada yang
mampu melaksanakan tugas tersebut?” kata Bhatara Bayu. “Sebesar dan seberat
apapun suatu pekerjaan, akan menjadi lebih mudah dan terasa lebih ringan bila
dikerjakan bersama-sama. Itu sebabnya, kalian harus berangkat bersama-sama dan
bergotong-royong untuk menyelesaikan pekerjaan ini”, perintah Bhatara
Guru. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi berangkatlah para dewa ke
Negeri Jambudwipa. Mereka bahu-membahu memotong Gunung Mandara menjadi dua.
Setelah puncak Mahameru berhasil didapatkan, barulah para dewa itu membagi
tugas untuk membawanya ke Pulau Jawa. Mula-mula, Bhatara Brahma yang mengubah dirinya
menjadi kura-kura raksasa. Kura-kura yang besarnya tiada terkira itu dijadikan
alas untuk meletakkan Mahameru. Kemudian Bhatara Bayu, sang dewa kekuatan
mengangkat Mahameru dengan dibantu dewa yang lain, dan meletakkannya di
punggung kura-kura. Setelah itu Bhatara Wisnu mengubah diri menjadi naga
raksasa yang panjangnya tidak terjangkau mata. Naga raksasa itu membelit
Mahameru agar tidak sampai terjatuh selama dalam perjalanan. Di
perjalanan para dewa yang kelelahan membawa Mahameru, merasa sangat kehausan.
Mereka melihat ada air yang sangat jernih keluar dari Mahameru yang dibawanya.
Para dewa yang menempuh perjalanan yang sangat jauh, segera berebut
mengambilnya. Mereka ingin menghapus dahaga dengan meminum air tersebut. Mereka
tidak sadar bahwa air itu sebenarnya adalah air racun Kalakuta yang mematikan.
Sesaat setelah meminumnya, para dewa itu menemui ajalnya. Tidak berapa
lama kemudian, Bhatara Guru datang untuk melihat kerja para dewa. Betapa
terkejutnya pemimpin para dewa itu, mengetahui anak buahnya sudah terbujur kaku
tidak bernyawa. “Ah, semua dewata mati. Apa sebabnya mereka mati?” kata Bhatara
Guru dalam hati. Setelah melihat keadaan sekeliling, Bhatara Guru mencurigai
air yang mengalir dari puncak Mahamerulah yang menjadi penyebab kematian para
dewa. Untuk membuktikannya, Bhatara Guru meneguk air racun Kalakuta itu.
Ternyata benar, begitu melewati tenggorokan, leher Bhatara Guru seketika bagai
terbakar. Bhatara Guru pun memuntahkannya. Namun sudah terlambat, meski
berhasil dimuntahkan, leher Bhatara Guru sudah terlanjur terbakar dan tak bisa
disembuhkan. Akibatnya, pada leher Bhatara Guru terdapat tanda hitam yang tidak
dapat dihilangkan. Sejak saat itu, Bhatara Guru mendapat sebutan Bhatara
Nilakanta yang artinya leher hitam. “Ganas sekali racun Mahameru ini.
Pantas bila para dewa langsung menemui ajal begitu meminumnya,” guman Batara
Guru. Akhirnya, dengan kesaktian yang dimiliki, Bhatara Guru mengubah air racun
Kalakuta menjadi air suci pangkal kehidupan. Air itu diberi nama Tirtha Kamandalu.
Tirtha Kamandalu itu segera disiramkan ke semua jasad para dewa. Ajaib! Begitu
tersentuh Tirtha Kamandalu, para Dewa langsung hidup sebagaimana keadaan
semula. Maka Bhatara Guru berkata: “Kini bawalah kembali Sang Hyang Mandaragiri
(nama lain Mahameru) sampai ke Pulau Jawa, hai anak-anakku.” Maka para
raksasa dikerahkan untuk membantu para dewata. Gunung Mandara diangkat,
kemudian sampailah mereka ke sisi sebelah barat Pulau Jawa. Nampaklah Mahameru
bercahaya cemerlang, oleh karena itu Gunung Mahameru dinamakan juga
Kelasaparwata. Lalu ditancapkanlah di sebelah barat Pulau Jawa sebagai paku.
Namun yang terjadi adalah Pulau Jawa terjungkit dan sebelah timur Pulau Jawa
terangkat ke atas. Tunggul sisanya hanya ada di sisi barat, oleh karena itu
nanti akan ada Gunung Kailasa, tunggulnya Sang Hyang Mahameru. Akhirnya
puncaknya Mahameru dipindahkan ke sebelah timur, diangkat bersama-sama oleh
para dewata. Dalam perjalanan pemindahan gunung tersebut bagian Mahameru
berguguran menjadi gunung-gunung yang berjajar sepanjang Pulau Jawa antara
lain, Gunung Katong (Lawu), Wilis, Kampud (Kelud), Kawi, Arjuna (Arjuno), dan
Gunung Kemukus (Welirang). Tubuh Mahameru rusak bagian bawahnya karena
runtuh maka miring berdirinya, bergerak-geraklah puncaknya. Lalu puncak Mahameru
diberdirikan oleh para dewata. Demikianlah Mahameru tidak kuat dan bersandar di
Gunung Brahma. Kemudian puncak yang tersisa ditancapkan berupa Gunung Semeru,
dari kata Mahameru. Ketika Gunung Mahameru sudah ditaruh di bagian timur, Pulau
Jawa tetap saja miring. Sehingga para Dewa memutuskan memotong bagian gunung
dan ditempatkan di bagian barat laut. Penggalan Mahameru itu menjadi Gunung
Pawitra (artinya Gunung Suci) dan sekarang lebih dikenal sebagai Gunung
Penanggungan. Oleh karena diperteguh pada Gunung Brahma, Pulau Jawa menjadi
kuat, berhentilah dia bergerak dan bergoyang maka Gunung Mahameru disebut juga
dengan Gunung Misada. Mulai saat itu Pulau Jawa menjadi tenang kedudukannya
seperti sekarang ini. Ketika Sang Hyang Siwa datang ke Pulau Jawa dilihatnya
banyak tanaman Jawawut, sehingga akhirnya pulau yang ditempati Gunung Mahameru
itu dinamakan Pulau Jawa. Bagian utama Gunung Mahameru dijadikan bersemayamnya
Dewa Siwa dan sekarang lebih dikenal dengan nama Gunung Semeru.