Minggu, 05 Oktober 2014


Sungai Bengawan Solo

BENGAWAN SOLO
Bengawan Solo adalah sungai terpanjang di Pulau Jawa, Indonesia dengan dua hulu sungai yaitu dari daerah Pegunungan Kidul,Wonogiri dan Ponorogo, selanjutnya bermuara di daerah Gresik. "Bengawan" dalam bahasa Jawa berarti "sungai yang besar". Di masa lalu, sungai ini pernah dinamakan Wuluyu, Wulayu, dan Semanggi (dieja Semangy dalam naskah bahasa Belanda abad ke-17)

WILAYAH ADMINISTRATIF
          Sungai ini panjangnya sekitar 548,53 km dan mengaliri dua provinsi yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kabupaten yang dilalui meliputi tiga bagian yaitu:

Wilayah Administratif Hulu:

1.   Wonogiri, Hulu utama pertama (Daerah Tangkapan Air Gajah Mungkur)
2.   Karanganyar
3.   Ponorogo, Hulu utama kedua (Daerah Tangkapan Air Kali Madiun)
4.   Boyolali,
5.   Sragen,
6.   Klaten

Wilayah Administratif Tengah:

1.   Sukoharjo,
2.   Solo,
3.   Ngawi,
4.   Madiun,
5.   Magetan,
6.   Blora,
7.   Cepu

Wilayah Administratif Hilir:

1.   Bojonegoro,
2.   Tuban,
3.   Lamongan
4.   Gresik 

BAGIAN SUNGAI

        Bengawan Solo Purba

Aliran Bengawan Solo masa kini terbentuk kira-kira empat juta tahun yang lalu. Sebelumnya terdapat aliran sungai yang mengalir ke selatan, diduga dari hulu yang sama dengan sungai yang sekarang. Karena proses pengangkatan geologis akibat desakan lempeng Indo-Australia yang mendesak daratan Jawa, aliran sungai itu beralih ke utara. Pantai Sadeng di bagian tenggara Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal sebagai "muara" Bengawan Solo Purba.

Daerah Hulu

          Daerah ini mayoritas meliputi daerah Hulu Kali Tenggar, Hulu Kali Muning, Hulu Waduk Gajah Mungkur serta sebagian Kabupaten Wonogiri dengan penampang sungai yang berbentuk V. Vegetasi pada daerah ini didominasi oleh tumbuhan akasia. Aktivitas yang banyak dilakukan di dareah ini adalah pertanian, seperti padi dan kacang tanah. Dinding sungai pada daerah ini rata-rata bertebing curam dan tinggi. Karena banyak digunakan untuk pertanian, daerah sekitar sungai pada bagian ini banyak mengalami erosi dansedimentasi yang cukup tinggi.

Daerah Tengah

          Daerah ini mayoritas meliputi daerah Hilir Waduk Gajah Mungkur, sebagian Kabupaten Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Solo, Sragen, sebagian Kabupaten Ngawi dan sebagian Tempuran (hilir) Kali Madiun. Selain itu daerah ini merupakan daerah yang padat penduduk. Pada umumnya kegiatan ekonomi di daerah bagian sungai ini lebih tinggi daripada bagian hulu dan hilir, dan didominasi oleh kegiatan industri. Akibatnya, banyak limbah yang masuk ke sungai dan mencemari vegetasi di daerah ini. Aktivitas masyarakat yang paling menonjol di daerah ini adalah pertanian, pemanfaatan air sebagai kebutuhan sehari-hari, peternakan dan industri.

Daerah Hilir

          Daerah ini meliputi daerah sebagian Tempuran (hilir) Kali Madiun, sebagian kabupaten Ngawi, Blora, Bojonegoro, Lamongan, Tuban dan berakhir di Desa Ujungpangkah, Gresik

Bagian Bengawan Solo di Bojonegoro

Bagian Bengawan Solo di Cepu

Bengawan Solo di kawasan Jurug, Surakarta





Jumat, 26 September 2014

Asal usul Gunung Semeru





Pulau Jawa pada zaman itu masih bergoyang-goyang, selalu bergerak mengguncang-guncang, karena belum ada penindihnya. Oleh karena itu Bhatara Guru mencari alat untuk menguatkan Pulau Jawa supaya tetap kuat. Kemudian Bhatara Guru bertapa di Gunung Hyang (Gunung Dewa, Gunung Dieng sekarang), berdiri menghadap ke timur, kemudian diputarlah air sampai menjadi busa, lalu menjadi gunung. Tanah yang dipijak oleh kaki Bhatara kelak menjadi Gunung Limohan. Kemudian Pulau Jawa sudah tidak kuat lagi, selalu bergerak berguncang-guncang. Kemudian Bhatara Parameswara (nama lain Bhatara Guru) memerintahkan kepada para dewata menghentikan penciptaan dunia. Maka pulanglah mereka ke sorganya masing-masing. Adapun manusia di Pulau Jawa semakin lama semakin bertambah banyak.  Melihat keadaan Pulau Jawa para Dewa merasa sangat prihatin. Itu sebabnya, dengan berbondong-bondong para dewa menghadap Bhatara Guru yang menjadi pemimpin mereka. Semua dewata, para resi, para pahlawan, para bidadari, para gandarwa, semua berhimpun dan sujud di kaki Bhatara Mahakarana. Setelah mereka berbuat sembah, mereka duduk bersila berderet menghadap ke Bhatara Guru. ”Sampai sekarang Pulau Jawa masih terus bergoyang kalau tidak segera diatasi, pulau itu selamanya tidak akan ditempati. Karena itu, mohon Pukulun (Tuan) memikirkannya,” kata Dewa Wisnu. Sesuai dengan hasil semadinya di Gunung Dihyang Bhatara Guru telah menemukan cara mengatasi hal itu. “Satu-satunya cara untuk membuat Pulau Jawa kokoh dan tidak bergoyang adalah dengan memberinya pasak.  Karena itu pergilah ke Jambudwipa (India). Potonglah Gunung Mandara separuhnya dan ambillah puncak Mahameru untuk dijadikan pasak Pulau Jawa,” ujar Bhatara Guru. “Mohon ampun, Pukulun. Gunung Mandara itu sangat tinggi, puncaknya yang bernama Mahameru sampai menyentuh langit. Jadi, meskipun diambil separuhnya, tetap saja sangat besar dan terlalu berat untuk diangkat serta dipindahkan. Mana mungkin di antara kami ada yang mampu melaksanakan tugas tersebut?” kata Bhatara Bayu. “Sebesar dan seberat apapun suatu pekerjaan, akan menjadi lebih mudah dan terasa lebih ringan bila dikerjakan bersama-sama. Itu sebabnya, kalian harus berangkat bersama-sama dan bergotong-royong untuk menyelesaikan pekerjaan ini”, perintah Bhatara Guru.  Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi berangkatlah para dewa ke Negeri Jambudwipa. Mereka bahu-membahu memotong Gunung Mandara menjadi dua. Setelah puncak Mahameru berhasil didapatkan, barulah para dewa itu membagi tugas untuk membawanya ke Pulau Jawa. Mula-mula, Bhatara Brahma yang mengubah dirinya menjadi kura-kura raksasa. Kura-kura yang besarnya tiada terkira itu dijadikan alas untuk meletakkan Mahameru. Kemudian Bhatara Bayu, sang dewa kekuatan mengangkat Mahameru dengan dibantu dewa yang lain, dan meletakkannya di punggung kura-kura. Setelah itu Bhatara Wisnu mengubah diri menjadi naga raksasa yang panjangnya tidak terjangkau mata. Naga raksasa itu membelit Mahameru agar tidak sampai terjatuh selama dalam perjalanan.  Di perjalanan para dewa yang kelelahan membawa Mahameru, merasa sangat kehausan. Mereka melihat ada air yang sangat jernih keluar dari Mahameru yang dibawanya. Para dewa yang menempuh perjalanan yang sangat jauh, segera berebut mengambilnya. Mereka ingin menghapus dahaga dengan meminum air tersebut. Mereka tidak sadar bahwa air itu sebenarnya adalah air racun Kalakuta yang mematikan. Sesaat setelah meminumnya, para dewa itu menemui ajalnya.  Tidak berapa lama kemudian, Bhatara Guru datang untuk melihat kerja para dewa. Betapa terkejutnya pemimpin para dewa itu, mengetahui anak buahnya sudah terbujur kaku tidak bernyawa. “Ah, semua dewata mati. Apa sebabnya mereka mati?” kata Bhatara Guru dalam hati. Setelah melihat keadaan sekeliling, Bhatara Guru mencurigai air yang mengalir dari puncak Mahamerulah yang menjadi penyebab kematian para dewa. Untuk membuktikannya, Bhatara Guru meneguk air racun Kalakuta itu. Ternyata benar, begitu melewati tenggorokan, leher Bhatara Guru seketika bagai terbakar. Bhatara Guru pun memuntahkannya. Namun sudah terlambat, meski berhasil dimuntahkan, leher Bhatara Guru sudah terlanjur terbakar dan tak bisa disembuhkan. Akibatnya, pada leher Bhatara Guru terdapat tanda hitam yang tidak dapat dihilangkan. Sejak saat itu, Bhatara Guru mendapat sebutan Bhatara Nilakanta yang artinya leher hitam.  “Ganas sekali racun Mahameru ini. Pantas bila para dewa langsung menemui ajal begitu meminumnya,” guman Batara Guru. Akhirnya, dengan kesaktian yang dimiliki, Bhatara Guru mengubah air racun Kalakuta menjadi air suci pangkal kehidupan. Air itu diberi nama Tirtha Kamandalu. Tirtha Kamandalu itu segera disiramkan ke semua jasad para dewa. Ajaib! Begitu tersentuh Tirtha Kamandalu, para Dewa langsung hidup sebagaimana keadaan semula. Maka Bhatara Guru berkata: “Kini bawalah kembali Sang Hyang Mandaragiri (nama lain Mahameru) sampai ke Pulau Jawa, hai anak-anakku.”  Maka para raksasa dikerahkan untuk membantu para dewata. Gunung Mandara diangkat, kemudian sampailah mereka ke sisi sebelah barat Pulau Jawa. Nampaklah Mahameru bercahaya cemerlang, oleh karena itu Gunung Mahameru dinamakan juga Kelasaparwata. Lalu ditancapkanlah di sebelah barat Pulau Jawa sebagai paku. Namun yang terjadi adalah Pulau Jawa terjungkit dan sebelah timur Pulau Jawa terangkat ke atas. Tunggul sisanya hanya ada di sisi barat, oleh karena itu nanti akan ada Gunung Kailasa, tunggulnya Sang Hyang Mahameru. Akhirnya puncaknya Mahameru dipindahkan ke sebelah timur, diangkat bersama-sama oleh para dewata. Dalam perjalanan pemindahan gunung tersebut bagian Mahameru berguguran menjadi gunung-gunung yang berjajar sepanjang Pulau Jawa antara lain, Gunung Katong (Lawu), Wilis, Kampud (Kelud), Kawi, Arjuna (Arjuno), dan Gunung Kemukus (Welirang).  Tubuh Mahameru rusak bagian bawahnya karena runtuh maka miring berdirinya, bergerak-geraklah puncaknya. Lalu puncak Mahameru diberdirikan oleh para dewata. Demikianlah Mahameru tidak kuat dan bersandar di Gunung Brahma. Kemudian puncak yang tersisa ditancapkan berupa Gunung Semeru, dari kata Mahameru. Ketika Gunung Mahameru sudah ditaruh di bagian timur, Pulau Jawa tetap saja miring. Sehingga para Dewa memutuskan memotong bagian gunung dan ditempatkan di bagian barat laut. Penggalan Mahameru itu menjadi Gunung Pawitra (artinya Gunung Suci) dan sekarang lebih dikenal sebagai Gunung Penanggungan. Oleh karena diperteguh pada Gunung Brahma, Pulau Jawa menjadi kuat, berhentilah dia bergerak dan bergoyang maka Gunung Mahameru disebut juga dengan Gunung Misada. Mulai saat itu Pulau Jawa menjadi tenang kedudukannya seperti sekarang ini. Ketika Sang Hyang Siwa datang ke Pulau Jawa dilihatnya banyak tanaman Jawawut, sehingga akhirnya pulau yang ditempati Gunung Mahameru itu dinamakan Pulau Jawa. Bagian utama Gunung Mahameru dijadikan bersemayamnya Dewa Siwa dan sekarang lebih dikenal dengan nama Gunung Semeru.